Yang Klasik Tetap Lebih Asyik

Januari 6, 2012

Oleh Sonia Fitri, Divisi Media dan Penerbitan Komunitas Anak Tangga

Pernyataan bahwa “media cetak akan punah di masa depan”, hanyalah sebuah mitos belaka.

Dunia global saat ini membawa negara ketiga termasuk Indonesia, berancang-ancang memasuki era digital. Globaisasi membuat akses internet bertebaran di mana-mana. Ia tersedia di layar komputer sampai di layar ponsel. Bahkan untuk identitas dasar warga negarapun—Kartu Tanda Penduduk (KTP)—sudah dikonsepkan dengan sistem digital.

Trend up-date status atau BBM menjamur. Aktualisasi diri yang semu difasiltasi oleh dunia maya. Dengan hanya berhadapan dengan layar monitor, silaturahim dan pertemanan bisa dilakukan tanpa bertemu, tidak perlu menguasai ilmu telepati seperti dilakukan para karuhun. Faktanya, perkembangan teknologi dunia telah menakjubkan kita. Pada sistem online, semua orang berlomba-lomba eksis mengekspresikan diri, jejaring sosial yang beragam kemudian menawarkan diri menjadi fasilitator. Begitu pula media massanya, berlomba-lomba pula up-date informasi tercepat, paling akurat.

Anthony Giddens dalam The Third Way (199: 33-38) menjelaskan bahwa globalisasi—yang menjadi penyebab utama lahirnya jaringan internet—adalah kata yang memiliki sejarah yang menarik. Menurutnya, hal pertama yang menyebabkan timbulnya globalisasi adalah masalah ekonomi, perluasan pasar uang dunia adalah perubahan penting. Bergerak dari soal ekonomi, globalisasi kemudian meliputi hampir keseluruhan kehidupan. Ia merupakan transformasi ruang dan waktu dalam kehidupan manusia yang digerakan oleh revolusi komunikasi dan teknologi informasi.

Mengutip pernyataan yang ditulis Acep Iwan Saidi dalam buku “Matinya Dunia Sastra”, bahwa kita telah menyaksikan bagaimana gerakan marxis, baik marxixme yang berharap pada kaum buruh maupun neo marxisme yang meletakkan tugasnya pada seniman dan intelektual untuk melakukan perubahan, telah tidak berdaya. Buruh, intelektual dan seniman bukan melakukan perubahan, tetapi justru terbawa oleh perubahan tersebut. Reformasi total—kata yang sejak tahun 1998 populer dalam euforia politik di Indonesia—adalah angan-angan yang tidak kesampaian.

Apapun bentuknya, media (cetak maupun online) kemudian menjadi sarana yang mengikuti arus dan pola pikir masyarakatnya. Terkait penyalahgunaan internet, ini disebabkan masyarakat kita yang belum siap. Sistem pendidikan kebanyakan menelurkan kaum intelek karbitan. Menurut Acep, diam-diam banyak yang menyadari bahwa kapitalisme yang menjadi sekulit sedaging dengan masyarakat modern nyaris mustahil untuk dijungkirbalikkan dengan revolusi sosial sebagaimana Marx mengharapkannya.

Kapitalisme menjadi penguasa. Semua yang dilakukan beroientasi pada keuntungan materi. Akibatnya, sikap ingin serba instan, simpel, dan praktis menjadi gaya hidup yang diidolakan. Kepraktisan memang menyenangkan. Kembali ke sistem online dan digital di atas, bahwa kita berpeluang menjadi populer dan dikenal dunia meski tak keliling dunia. Dengan maraknya situs berita online, kejadian yang terjadi di seberang pulau, dan seberang benua bisa kita ketahui tanpa perlu menuju ke TKP. Bisnis online menjadi , begitupula pemberitaannya. Bahkan suatu saat nanti, saya dan teman-teman komunitas anak tangga akan menjadi bagian yang mengoptialisasi fungsi online. Mungkin saja.

Berita online unggul dalam kecepatan, meski kerap kecolongan dalam hal akurasi berita. Dari segi persebaran berita, online bisa diakses oleh siapapun di berbagai belahan dunia. Suatu saat nanti tidak menutup kemungkinan semua kegiatan sosialisasi bergantung pada jaringan internet.

Tapi sebuah peradaban akan lahir karena adanya dokumentasi. Karena itulah budaya tulis dan cetak hadir mengawali. Membuka kamus bahasa asing secara manual contohnya, akan berbeda rasanya dengan membuka kamus digital. Tentunya, yang digital lebih mudah, cepat dan praktis. Tapi dampak buruknya, cara praktis membuat kita malas dan tidak menghayati proses pembelajaran. Sama halnya ketika membaca koran versi cetak, lebih asyik dan tak membuat pegal mata.

Intinya, kehadiran internet dan sistem digital tak bisa menggantikan peran media cetak, meski masing-masing punya keunggulan tersendiri. Klasik itu tetap lebih asyik. Dunia baca dan dokumentasi nyata harusnya tetap diminati oleh kaum yang berperadaban. Maka, saya berkesimpulan bahwa pers belum akan menemui ajalnya di masa depan akibat hadirnya online. Entah dengan konvergensi atau cara apapun, saya berkesimpulan bahwa peran online tidak akan bisa menggantikan posisi dan peran media cetak karena yang klasik itu lebih asyik.[]penulis adalah mahasiswa jurusan jurnalistik semester V UIN Bandung.

 

HENTIKAN KONFLIK DAN KEKERASAN

Januari 5, 2012

Ciptakan Keharmonisan dan Kedamaian

Oleh Adhi Muhammad Daryono, Divisi Analisis Wacana

Komunitas Anak Tangga

Mungkin tulisan ini hanya menanggapi berbagai isu hangat dan aktual yang terjadi di negeri ini. Tapi tidak lepas dari bingkai media , sesuai denga ranah kajian kita. Akhir-akkhir ini kita mendengar, menyaksikan di televisi, membaca di koran dan media online berita-berita kekerasan, konflik antar warga, pembunuhan, kebrutalan geng motor, konflik yang berlatar agama, dan masih banyak isu-isu kekerasan lainnya yang muncul di media.

Melihat, membaca, dan menyaksikan berita tersebu memubuat saya menggeleng-gelengkan kepala. Miris dan ironi. Kenapa bangsa ini begitu senang pada hal yang berbau kekerasan. Kisah Mesuji di Lampung hanya dikarenakan perebutan lahan, pemukulan mahasiswa di Bima, NTB, dan yang baru-baru ini terjadi yang bermotifkan agama terjadi di Madura, pembakaran dan pegusiran warga penganut Madzhab Syia’ah yang dianggap sebagai aliran sesat oleh warga setempat (Padahal Syia’ah merupakan Madzhab yang diakui dan tidak dianggap sesat dalam Islam). Dan kejadian yang paling dekat dengan saya adalah yang menimpa keluarga teman saya. Pamannya merupakan korban dari aksi kebrutalan geng motor. (baca: http://bandung.detik.com/read/2012/01/03/165756/1805838/486/biadab-dua-remaja-dibacok-dan-mulutnya-d) – maaf bukan bermaksud untuk membuat sedih teman, tetapi hanya untuk menunjukan contoh kasus.

Bangsa ini telah tercuci otaknya oleh hal yang berbau kekerasan. Budaya bangsa ini berubah, bangsa ini mencintai budaya kekerasan (padahal yang bersifat negatif bukanlah suatu bentuk budaya menurut Kuntjaraningrat). Sepertinya bangsa ini telah kehilangan jati dirinya sebagai bagsa yang ramah dan sopan santun dalam bertindak. Bangsa ini dikenal oleh bangsa lain sebagai bangsas yang mempunyai budi luhur, tata krama, dan sopan santun yang tinggi. Ingat bangsa ini sangat menjungjung tinggi nilai-nilai humanis seperti dalam sila kedua “kemanusiaan yang beradab”. Mengapa bangsa ini terpecah oleh konflik yan seharusnya tak pantas terjadi? Nilai sila ketiga “persatuan Indonesia” hilang begitu saja. Tak ada lagi persatuan, yang ada hanya permusuhan, kebencian. Padahal kita adalah satu, yaitu Indonesia.

Konflik, peperangan, tawuran sudah tak zaman. Hal seperti itu adalah primitif yang harus ditinggalkan. Sekarang dalah zaman peradaban maju, peradaban damai, peradaban harmonnis. Memang bengsa ini terdiri dari perbedaan. Kita berbeda sudah dari sejak dulu, dan dari sejak dulu tidak ada konflik diantara kita sendiri karena kita berbeda. Mengapa kini perbedaan kita dipermasalahkan?

Jadikan perbedaan ini sebagai anugrah dari Tuhan. Tuhan menciptakan kita berbeda agar kita saling mengenal, mengerti satu sama lain. Berbeda diantara kita adalah suatu kesatuan yang indah. Tentunya berbeda dan harmonis itu indah bukan? Kita satu dalam perbedaan, dan kita berbeda dalam suatu persatuan, “Bhineka Tunggal Ika”.

Lalu apa penyebab dari kekerasan, konfilk, pertikaian yang muncul di tengah warga kita?

Media. Mungkin jawaban yang pantas. Media saat ini sangat berpengaruh pada pola pikir masyarakat. Media dapat mengarahkan, mengatur, menyeting khalaykanya menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Pengaruh media sangat besar bagi tumbuh kembangnya pola pikor generasi penerus bangsa ini. Setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai program acara, seperti sinetron, film dan yang sejenisnya dengan konten-konten berbau kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, sex yang tidak mendidik, tawuran, dll. Dan dampaknya adalah pola pikir generasi bangsa yang terbius oleh hal-hal semacam itu.

Lalu konflik yang terjadi di masyarkat, semua itu tidak lain dan tidak bukan settingan media. Memang ada kesengajaan pihak yang tidak bertanngungjawab untuk mengalihkan perhatian khalayak pada isu lain. Agar isu yang lain tidak menjadi perhatian kahalayak. Begitu isu tersebut sudah agak lama, media mengalihkannya lagi pada isu yang lain.Yaa.. kita sebut saja pengalihan isu, supaya menutupi isu sebelumnya. Sesuai dengan salah satu teori Komunikasi Massa yaitu teori Agenda Setting.

Seharusnya media dapat memdiasi mereka yang berkonflik bukan memperkeruh suasana konflik demi suatu pengalihan isu. Fungsi media adalah to educate , mendidik masyarakat agar lebih cerdas berfikir, lebih cerdas bertindak jangan mendidik dengan hal yang berbau kekkerasan seperti yang ditonjolkan pada sinetron dan program acara lain yang ditayangkan di televisi. Jadikanlah bangsa ini menjadi bagsa yang cerdas dan menjadi bangsa yang tidak mudah pemarah, menjadi bangsa yang ramah, bangsa yang sopa seperti sedia kala, melalui tontonan yang mendidik.

Satu hal lagi, media adalah alat mediasi , alat penengah bagi mereka yang mempunyai masalah konflik. Jangan membuat mempengaruh suasana dengan pemberitaan yang menimbulkan ketegangan. Ingat! Kembalilah pada Peace Jurnalism (Jurnalisme Perdamaian).

Bukankankah hidup ini indah bila kita Harmonis dan Damai?

Media Seperti Pisau

Januari 4, 2012

Oleh Dita Nuramalia, Divisi Analisis Wacana

Keberadaan media massa telah membawa kita pada era globalisasi, sebuah zaman yang menawarkan ruang tak terbatas, membuang sekat-sekat antar negara dan mengintegrasikannya ke dalam satu persepsi sehingga informasi-informasi dapat kita ketahui secara cepat. Proses mengirimkan pesan dari Indonesia ke Jepang, tidak usah menunggu hingga berminggu-minggu, berkat pemakaian media dengan teknologi yang tepat. Ruang dan waktu semakin dibuat cepat dan sempit, seakan-akan dunia dibuat menjadi satu komunitas, di mana setiap penghuninya bisa berinteraksi secara realtime tanpa halangan yang berarti.

Ini terjadi berkat revolusi informasi yang memasuki pelosok dunia lewat saluran media massa diantaranya adalah televisi dan internet. Sebagai media komunikasi, ia sama saja seperti kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Hingga bisa dimunculkan tesis, kebutuhan terhadap internet adalah kebutuhan untuk berkomunikasi dan ini adalah harga mati. Melalui bantuan teknologi mutakhir ini pula kita dapat mengakses berbagai berita mulai dari kebijakan pemerintah, kenaikan harga di pasar, korupsi, ilegal loging, perseteruan antar pemilik saham, gosip selebritas, pemerkosaan, seks bebas,dan kriminalitas.

Media secara terminologi adalah alat, artinya secara luas adalah “perantara”. Perubahan sosial amat dipengruhi oleh media. Kenyataan pahit saat ini adalah perubahan masyarakat akan semakin buta informasi sebenarnya karena media menjadi alat kekuasaan or media menjadi alat pembodohan…benar gak? Media menjadi alat bagi golongan tertentu untuk menutupi kebenaran demi kepentingannya, merubah persepsi umum tentang kebenaran.

Salah satu tolak ukur kemajuan sebuah negara adalah sampai di mana ia menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan dengan mantap, konprehensif dan total. Termasuk tentu saja teknologi komunikasi. Sebab, komunikasi memang kebutuhan dalam menjalani kehidupan yang dinamis menuju peradaban yang lebih maju. Demi mempercepat, menuju itulah teknologi media/informasi/komunikasi semakin dibuat canggih dan seterusnya demikian demi menjawab tantangan berkomunikasi yang lebih efektif.

Pada dasarnya media massa merupakan sesuatu yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi, baik komunikasi personal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa. Pada saat ini media masa telah menjadi suatu kebutuhan hampir pada seluruh masyarakat berbagai lapisan baik pada lapisan atas, tengah, dan bawah. Kebutuhan tersebut bertambah seiring dengan perkembangan informasi yang sedang berkembang pada saat ini.

 

Hal ini didukung pula oleh lahirnya kebebasan komunikasi massa dalam bentuk media massa cetak dan elektronik melalui Undang-Undang Penyiaran No. 32 tahun 2002 dan Undang-Undang Pers No. 40 tahun 1999 serta dibungkus dengan himpunan etika profesi wartawan (kode etik jurnalistik) bagi para pencari berita. Sehingga, tidak heran kalau dewasa ini, media massa cetak maupun elektronik berlomba untuk menayangkan variatif program untuk mendongkrak posisi rating mereka serta mendapatkan keuntungan sebesar – besarnya.

Pemberitaan di media massa khususnya televisi, merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan berita (pesan) yang paling diminati masyarakat pada umumnya. Penyampaian pesan yang disampaikan kepada penerima pesan (penonton) dengan cara yang lebih menarik yaitu dengan adanya tampilan audio visual sehingga terasa lebih hidup dan dapat menjangkau ruang lingkup yang sangat luas, sehingga hal ini merupakan salah satu nilai positif yang dimiliki media masa televisi.

Akan tetapi, hal tersebut tidak hannya memberikan dampak yang positif terhadap masyarakat (penonton). Jika pesan-pesan yang disampaikan oleh media masa televisi tidak sesuai dengan aturan-atuaran penyiaran yang telah ditetapkan dan dikemas dengan baik, maka hal tersebut akan memberikan implikasi yang negatif terhadap kehidupan masyarakat. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah peningkatan tindak kriminalitas yang terjadi di masyarakat.

Media seperti pisau..bisa memberi manfaat besar, tapi juga bisa menjadi bencana besar..tergantung bagaimana manusia memanfaatkannya. Bisa menjadi sarana penyebar ilmu-ilmu yang banyak bermanfaat, bisa jadi penyebar ilmu-ilmu yang ngga bener..menyebarkan berita kejahatan, bisa jadi informasi untuk lebih waspada, tapi juga bisa jadi ilmu baru buat meniru kejahatannya..sinetron bisa jadi wacana buat referensi kisah2nya, tapi juga bisa mendidik anak-anak, atau bahkan yang lebih parah bisa membentak-bentak orang tua..bisa jadi nyebarin berita baik, bisa jadi media ghibah (gosip)..tergantung mau buat apa pisau ditangan kita?

Permasalahan ini merupakan permasalahan yang komplek sehingga penanganan terhadap permasahan ini tidak dapat dilakuakan oleh satu tangan saja. Kerjasama anggota keluarga dan partisipasi semua elemen masyarakat adalah solusi yang sangat tepat untuk menyelesaikan permasalahan ini.

So, manfaatkanlah media dengan sebaik mungkin, sebagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan dalam hal yang positif dan lebih selektiflah dalam memfilter informasi yang disajikan melalui berbagai macam bentuk media!.

 

Referensi:

  1. http://ilmukomputer.org/wp-content/uploads/2008/01/adri-multimedia-pengajaran.pdf
  2. http://dictum4magz.wordpress.com/2008/01/20/pengaruh-media-terhadap-masyarakat-dalam-kaitannya-dengan-perkembangan-teknologi-komunikasi/

 

 

Fungsi yang Tereliminasi

Januari 4, 2012

Oleh Ahmad Fauzi, Divisi Graphis Komunitas Anak Tangga

Tak beda dengan kebutuhan primer lainnya, media sudah menjelma menjadi suatu hal yang vital bagi kelangsungan hidup manusia. Tak bisa dipungkiri, keberadaan media dirasa berpangaruh bagi karakter dan budaya negeri ini. Bagaimana tidak, media yang kini ada dari mulai cetak hingga elektronik seolah tak lelah terus membanjiri informasi para penggunanya dan semua itu terkadang tak mampu di bendung bahkan saringan untuk media pun terbilang jebol atas kekejaman informasi lewat sebuah media.

    Ada beberapa fungsi media seperti informasi, edukasi, hiburan, serta transformasi nilai. Dari keempat fungsi yang saya sebutkan, saya sedikit mengutip fungsi media sebagai alat edukasi yang mulai luntur atau bahkan tereliminasi oleh fungsi lainnya. Ketika fungsi media sebagai hiburan sukses dengan membludaknya peminat yang menngemari acara hiburan tersebut, fungsi media sebagai alat informasi yang sukses dengan berita – berita yang membuming di masyarakat serta fungsi media sebagai alat transformasi nilai yang tak sedikit mampu di adaptasi banyak orang, tapi satu yang saya sayangkan bahwa fungsi media sebagai alat edukasi yang saya rasa sudah mulai hilang terkikis pasar.
    Saya ambil contoh sederhana, dari sebuah acara hiburan yang memang benar mampu mengocok perut saya dengan candaan yang sering berbau hinaan, jahil, kekerasan, serta tak jarang kita tertawa karna penderitaan orang. memang kita tahu disana acara hiburan, tapi siapa yang bertanggung jawab bila moral dan karakter bangsa yang bobrok karena terbiasa melihat acara hiburan yang meluai melumrahkan hal – hal seperti hinaan, jahil, atau bahkan tertawa atas penderitaan orang? dan memang usia tak menjadi syarat untuk bisa menikmati acara hiburan ini. dimana kita bisa ambil nilai edukasinya? oh, mungkin benar kata ayu ting ting, saya salah alamat. tak seharusnya mencari nilai edukasi di acara hiburan.
    Ok, kita ke tampat lain. acara yang mengandung fungsi informasi seperti acara atau kolom berita. Informasi yang disajikan di sebuah media di Indonesia sangat berpengaruh terhadap alur cerita dan tinggi rendahnya tensi di negeri ini. Berita mengenai korupsi, koruptor, pembunuhan, pemerkosaan atau hal – hal negatif lainnya lebih sering merajalela di dunia per-media-an dibandinggkan berita – berita positif. Memang tak selalu begitu, terkadang berita – berita positif hadir secara musiman seperti musim sea games, itupun kalau Indonesia berprestasi. Atau mungkin terlalu minimnya prestasi negeri ini hingga tertutup oleh berita – berita negatif dan diperparah lagi dengan kata “bad news is good news”. Setidaknya, seharusnya dari berita positif tersempil nilai edukasi yang bisa diambil. Jauh lebih buruk ketika kita melihat bahwa media berubah menjadi alat tunggangan politik, miris memang. Sepertinya saya sudah tidak bisa berkata – kata lagi soal itu, kita semua tahu fenomena mengerikan ini. Jadi, mana nilai edukasi yang disuguhkan media? memang tak semua media seperti itu, masih ada juga media yang mau memperhatikan fungsi yang satu ini. tapi mana?
    Tulisan ini bukan hasil observasi atu survei kepada media. Tapi tulisan ini murni subyektifitas saya sendiri. Jadi, mohon maaf apabila ada pihak yang merasa dirugikan.

Kecanggihan Teknologi Media Informasi

Januari 4, 2012

Oleh Bustomi, Divisi Graphis Komunitas Anak Tangga

Pada zaman yang sedang modern seperti saat inikita tahu akan kecanggihan dariteknologi yang terus berkembang sangat pesat dari zaman ke zaman hingga sampai saat ini tidak dapat diragukan kembali. Begitu juga akan media infomasi yang semakin cepat di cari dan dibutuhkan oleh setiap orang. dengan berita yang aktual pencarian informasi bisa dicari oleh siapun dimana saja dan kapan pun, bahkan dengan kecepatan per second / detik pun segalanya bisa kita dapat ditemukan melalui teknologi yang modern saat ini yaitu melalui alat mediayang ada seperti HP, komputer/PC, laptop, note book, black berry, I-pad dan lain-lain.Lalu dengan alat media yang sudah ada kita bisa menemukan pencariannya melalui web atau situs-situsseperti di google, detik.com, kompasiana, viva news, bahkan juga ada di jejaring sosial (FB) Facebook, twitter, yahoo dan lain-lain. Karena informasi bisa dapat di cari dimana-mana dan di berbagai situs web.

Pada zaman dahulu teknologi memang belum sangat terkenal dan juga belum banyak ditemukan berbagai macam dan jenisnya. Tetapi kecanggihan akan teknologi yang semakin hari pun semakin banyak ditemukan oleh para ahli dan dikenal banyak orang akhirnyaterus berkembang sangat pesat dari dahulu hingga sekarang dan masih banyak menemukan hal yang baru untuk diteliti.contoh ketika seseorang akan mengambil informasi dengan menggunakan alat untuk merekam gambar, suara dan lain-lain pasti menggunakan kamera atau perekam suara.Tetapi pada zaman dahulu belum ada teknologi yang seperti itu walaupun ada masih kurang baik dan masih sangat minim dan harganya pun sangat mahal.

Maka untuk kegiatan pengambilan data dan informasi tersebut cara pengambilannya dengan menggunakan cara catat mencatat dan menggambarkan suatu objek ke dalam kertas. Tetapi pada zaman sekarang sudah menggunakan teknologi yang modern dalam pencatatan dan pengambilan gambar dengan menggunakan kamera yang jauh lebih bagus walaupun harganya tetap mahal tapi masih terjangkaulah.

Seorang jurnalis juga tidak harus mempunyai kamera SLR atau kamdi (kamera digital) karna tanpa menggunakan kamera SLR ataupun kamera digital dengan HP juga bisa dan lebih cepat dalampengambilan dan penyimpanan data, bahkan dalam pengiriman data ke khalayak banyak juga bisa lebih cepat. Misalnya ketika seorang jurnalis diharuskan harus memberikan informasi dengan cepat dan jelas kepada pemberitaan yang sifatnya cepat yaitu ketika seorang jurnalis melihat situasi yang sangat mendadak seperti ketika ada bencana alam yang tak dapat diduga-duga maka membutuhkan pengambilan foto / gambar dan pengambilan informasinyayang harus jelas, padat dan singkat. Maka dalam cara pengambilan data dan gambarnya agar bisa dengan cepat ya dengan menggunakan HP misal black berry atau merk hp lainnya yang mempunyai kamera foto, jadi bisa langsung memfoto gambar kejadian yang terjadi, setelah itu memberikan keterangan pada gambar tersebut atau biasa disebut (   ) dan setelah itu bisa langsung kirim dah caranya gampang, simpel kan dan mudah untuk pemberitaan yang sifatnya tidak terencana yang sedang terjadi.

karna kalau memakai kamera SLR atau memakai kamdi pasti ribet untuk hal pemberitaan yang sifatnya cepat. Biasanya kalau memakai kamera SLR atau memakai kamdi untuk dalam hal pemberitaannya yan bersifat sudah terjadi dan terencana. Karna untuk pengiriman dan pemindahan datanya harus dipindahkan terlebih dahulu ke laptop atau PC dan membutuhkan untuk pengeditan yang lebih lanjut maka hal itu membutuhkan proses yang cukup lama dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. jadidalam penggunaan kamera SLR dan kamera digital hanya dalam hal peristiwa yang sudah terencana dan sudah terjadi.

Dalam hal kegiatan jurnalis juga catat mencatat dan pengambilan gambar dengan menggunakan gambaran dikertas juga sangat membantu jika seorang jurnalis tidak mempunyai berbagai macam alat teknologi yang sudah ada.

Seorang warga masyarakat pun juga bisa jadi seorang jurnalis karna telah memberikan informasi kepada orang lainatau biasa disebut jurnalisme(citizen jurnalism).Sebagai fungsi pers ialah memberikan sebuah informasi berita yang bisa dari mana saja.Keterikatan warga masyarakat memang sangat berperan sekali bagi pemberitaan. Seorang jurnalis pun bisa dari mana saja dan siapapun bisa jadi seorang jurnalis walaupun ia seorang tukang becak, tukang ojek, tukang dagang, tukang balon, tukang parkir dan masih banyak tukang-tukang yang lain…sebab informasi itu sifatnya… ya tidak bisa diduga-duga. Pengambilan sumber informasi bisa dari mana saja, kapan pun bisa dan tiap waktu pun bisa dan tidak menentu informasi itu dan bisa dapat diambil dari beberapa sumber. Sebab seorang jurnalis juga sangat membutuhkan informasi yang jelas dari narasumber yang dapat dipercaya dan seseorang yang ingin mencari informasi yang diinginkan bisa dapat dicari dimana saja dengan teknologi yang ada sekarang mau lewat hp, pc, note book dan berbagai macam akan kecanggihan teknologi yang semakin maju dan semakin banyak seorang ingin mengambil informasi dari berbagai macam teknologi yang sudah ada.

 

Media dan Bocah-bocah

Januari 3, 2012

Oleh Indra Abdurohim, Anggota Komunitas Anak Tangga

Membicarakan media tentu merupakan hal yang sudah tak asing baik di mata maupun dalam indra visual di keseharian kita. Media bagaikan seorang kekasih yang intim memadu informasi bagi khlayak, begitu setia memberikan berita  updatesetiap hari. Tak hanya itu, ia pun begitu memanjakan kita dengan berbagai sarana dari mulai program-program hiburan di Televisi hingga video berbau serampangan di internet.

Media khususnya internet menjadikan semua hal tersebut terasa begitu mudah untuk diakses, mulanya memang media yang memiliki perkembangan sarana hiburan, berita dan informasi yang cepat ini memberikan dampak positif bagi khalayak banyak. Namun kemudian apa yang terjadi? media yang bebas nilai itu cukup membuat gemas dan cemas orang banyak terutama para orang tua. Mereka khawatir anak mereka menjadi ketergantungan oleh apa-apa yang disuguhkan media maya.
Media maya seolah menjadi momok monster mengerikan bagi orang tua, karena cukup sulit untuk diabaikan oleh bocah-bocah generasi sekarang. Media maya seolah menjadi morphin dikehidupan interaksi sosial, padahal mereka adalah anak-anak yang baru saja mengenyam pendidikan sekolah dasar. Ya, mereka hanyalah bocah-bocah yang sedang tinggi hasrat ingin tahunya saja. Namun hal inilah yang menjadikan bocah-bocah tersebut berbeda dengan generasi sebelumnya, wajah bersosial mereka jauh berubah : akrab dengan games online, facebook, youtube, hingga berbagai hal lainnya yang tak banyak content-nya bersifat kasar dan “xxx”.
Maka akibatnya Bocah-bocah yang dalam masanya masih gemar dengan sikap duplikasi itu akan dengan gamblang meniru segala tindak tanduk yang dilihatnya, yang mereka anggap “keren” atau “lucu”. Coba perhatikan bagaimana mereka berinteraksi sesama teman sebayanya, perkataan “kebun binatang” sering terdengar menggesek telinga bukan? Oleh sebab itu tak heran bila belakangan banyak terjadi berita mengenai penganiyaan anak oleh teman-temannya sendiri, seperti yang telah dialami seorang siswi kelas 1 SD Quntum yang dianiaya oleh seniornya kelas 4 pada oktober 2011 lalu.
Dengan demikian orang tua dituntut harus sigap dalam menangani bocah-bocah mereka, jangan sampai ketinggalan jaman dan berpikir kolot dalam menangani proses pergaulan bocah-bocah tersebut. Disinilah perlu ditanamkan rasa melek media yang sehat untuk bocah-bocah agar mereka bisa memisahkan berbagai informasi dan cara bergaul diantara sebayanya dengan baik, sehingga proses pendewasaan dini tidak terjadi.
Mungkin banyak yang belum menyadari bahwa mengkategorikan bocah-bocah (termasuk remaja) sebagai sebuah konseptual yang berbeda belumlah lama. Seperti halnya dinyatakan Dennis dan Pease dalam bukunya Children and the Media (New Jersey: Transaction):[1]
While children are mentioned in the Bible and in the writings of Plato, the idea that they ought to be protected catered to and nurtured is a fairly recent notion in public discourse. That they are a constituency of the media in all of its functions—news and information, opinion, entertainment and marketing—is itself rather revolutionary (1996: xxi).
Anak-anak generasi penerus bangsa ini memang harus dilindungi dengan baik oleh pendidikan yang tentunya memerlukan support pemerintah. Bahkan bila dianggap perlu Dinas Pendidikan memasukan mata pelajaran media agar mereka dapat melek dengan benar. Bila hal ini tidak dilakukan maka dikhawatirkan anak hanya akan menjadi target audiens yang empuk bagi berbagai fasilitas ataupun produk yang ditawarkan di dunia online.
Media sosial pun menjadi ancaman tersendiri ketika hal tersebut tidak dapat terpenuhi. Seperti yang telah diteliti di Eropa. Dari 14 (media sosial) yang diuji, hanya dua (Bebo dan MySpace) yang memiliki kontrol yang diperlukan agar “orang asing potensial” tidak bisa mendapatkan akses. Pihak berwenang di Brussels mengatakan, jumlah anak-anak yang menggunakan internet dan berlangganan ke situs jaringan sosial tumbuh. Saat  ini 77 persen dari anak usia 13 hingga 16, dan 38 persen dari mereka berusia 9 sampai 12, aktif ke situs jaringan sosial.[2]

Dalam hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa selain dari Bebo dan Myspace 12 lainnya (termasuk facebook)  tidaklah aman bagi anak-anak, padahal situs pertemanan ini sedang menjadi trend di Indonesia yang didaulat menjadi rangking ke-2 dunia pengguna facebook setelah Amerika versi socialbakers.com

elek media budaya melek media kini seharusnya tak lagi hanya di canangkan untuk para mahasiswa, pegawai, guru, PNS, dan orang dewasa lainnya yang memiliki kebutuhan akan tetapi juga harus di sisihkan untuk bocah-bocah seusia sekolah dasar yang memiliki kepentingan entah itu karena pembelajaran ataupun sekedar bermain game online. Hal tersebut demi menciptakan generasi penerus yang cerdas memanfaatkan media bukan malah menjadi korban media.

Sebagai umat muslim dalam mendidik anak ada sebuah hadits yang menjadi sebuah landasan, yak bilamana manusia telah meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: (1) sedekah jariah; (2) ilmu yang bermanfaat; (3) anak shalih yang mendoakannya. (HR al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud). J

 

Media Massa Pembentuk Opini Publik

Januari 3, 2012

Oleh Agina Puspanurani, Divisi Media dan Penerbitan Komunitas Anak Tangga

Media massa identik dengan pembentukkan opini publik. Media massa berperan aktif dalam mempengaruhi lifestyle manusia. Bagaimana tidak media massa menjadi sarana paling efektif untuk menyampaikan kepentingan kelompok bahkan pribadi. Apalagi para pemilik media saat ini –hampir sebagaian besar- adalah mereka yang memiliki kekuasaan atau pemilik partai politik tertentu. Sehingga ideologi media bisa dipastikan akan memihak partai politik tempat pimpinannya berkecimpung. Padahal media massa tidak seharusnya memihak salah satu agama, ras, budaya, suku, partai politik, atau apapun yang akan memihak salah satu kelompok kepentingan.

Para teoretikus mengemukakan tentang tiga karakteristik media, yaitu :

  1. Ubikuitas (Ubiquity) merunjuk pada fakta bahwa media adalah sumber informasi yang berkuasa. Hal ini dikarenakan media ada dimana-dimana, banyak orang bergantung pada media ketika mencari informasi.
  2. Kekumulatifan (Cumulativeness) merujuk pada proses media yang mengulangi dirinya sendiri melintasi program dan waktu. Sering kali, kita akan membaca suatu cerita di surat kabar , mendengarkan cerita yang sama di radio kemudian menonton cerita tersebut pada berita sore. Persetujuan terhadap suatu suara memenuhi informasi apa yang dikeluarkan kepada publik untuk membantu mereka membentuk opini publik.
  3. Konsonansi (Consonance) berhubungan dengan kesamaan keyakinan, sikap dan nilai yang dipegang oleh media. Noelle-Neumann[1] menyatakan bahwa konsonansi dihasilkan dari tendensi orang-orang berita untuk menginformasikan ide dan opini mereka sendiri dan sepertinya opini ini berasal dari publik.

Tidak bisa dipungkiri lagi, hadirnya media massa memberikan bumbu-bumbu kehidupan di dunia ini. Informasi dapat tersebar ke berbagai belahan dunia hanya dalam waktu /per detik sehingga langsung membentuk opini publik tentang hal tertentu.

Opini merupakan ekspresi dari suatu sikap. Opini selalu bervariasi baik dari segi intensitas maupun  stabilitasnya. Sementara itu Noelle-Neumann menyatakan bahwa opini adalah tingkat persetujuan dari populasi tertentu. Opini sama artinya dengan sesuatu yang dianggap berterima. Adapun opini publik merupakan sikap atau perilaku yang harus diekspresikan seseorang di depan publik jika ia tidak ingin menyebabkan dirinya terisolasi dalamare-area kontroversi atau perubahan. Opini publik adalah sikap yang dapat diekspresikan tanpa harus memunculkan bahaya akan isolasi terhadap dirinya.

Khalayak cenderung akan mengikuti atau setuju terhadap suatu pendapat yang telah menjadi opini publik. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Spiral of Silent Theory, bahwa penyebab utama seseorang enggan menyatakan  pendapatnya (yang bertentangan dengan opini publik)  karena mereka takut akan isolasi dari kaum mayoritas yang mendukung opini publik tersebut. Terutama jika opini tersebut datang dari kalangan orang-orang yang memiliki kekuasaan.

Media massa menjadi faktor utama pembentuk opini publik. Media massa-lah yang berperan sehingga menghasilkan suatu opini publik. Secara otomatis, karena media terus menginformasikan tentang suatu hal misalnya media menyatakan bahwa memukul anak adalah tindakan kekerasan. Maka khalayak akan memiliki pendapat yang sama seperti yang diberitakan oleh media, walaupun diantara khalayak itu ada yang memiliki pendapat berbeda mengenai informasi pada media. Tapi mereka yang tidak setuju cenderung memilih untuk diam, terutama ketika terlibat dalam suatu diskusi. Meskipun terkadang individu sering kali merasakan tekanan yang besar untuk sepakat dengan orang lain, walaupun orang lain mungkin saja tidak benar. Ini menyatakan bahwa ketakutan akan isolasi sangat nyata.

Hadirnya media massa tidak hanya membentuk opini publik saja. Media massa mampu mengubah gaya hidup bahkan kepribadian seseorang. Dotkrin-doktrin dengan mudah dapat disampaikan melalui media massa. Meskipun di sisi lain hadirnya media massa sangat membantu dalam penyebarluasan informasi secara cepat. Opini publik yang sedang berkembang saat ini merupakan hasil kerja media massa. Media massa akan selalu membentuk sebuah opini publik terutama mengenai kasus-kasus tertentu yang sedang hangat diangkat banyak media.


[1] Seorang peneliti salah satu teori komunikasi, yaitu Teori Spiral Keheningan.

 

Konvergensi Media

Januari 3, 2012

Oleh Alfian, Duta Graphis Komunitas Anak Tangga

Perkembangan di bidang Teknologi Informasi telah menyebabkan terjadinya konvergensi, hilangnya peradaban antarmedia, semenjak diperkenalkannya personal computer pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an. Bill Gates pendiri Microsoft mengemukakan kemunculan era ini pada Consumer Electronoc Show tahunan.  Ia mengemukakan :

“Konvergensi tidak akan terjadi sampai anda  memiliki segala sesuatu dalam bentuk digital yaitu ketika konsumen dapat dengan mudah menggunakan pada semua bentuk peralatan yang berbeda. Jadi ketika kita membahas tiga jenis media terpenting foto, musik, dan video makan kemajuan yang dapat memberikan orang fleksibelitas terhadap penggunaan jenis media ini sangatlah mudah, hal ini telah diimpikan sejak lama. Dan sekarang, impian tersebut telah menjadikan  kenyataan” (Baran dan Davis, 2010).

Kenyataan, impian tersebut telah terjadi di era internet ini, dengan keadaan yang tidak sepenuhnya terpikir oleh Gates beberapa tahun yang lalu. Saat ini kita dapat menerima video bergerak melalui telepon genggam – yakni ketika kita sedang tidak memanfaatkan telepon genggam tersebut untuk berselancar di web atau mencari informasi mengenai beberapa hal melalui global positioning di internet.

Internet sudah ada antara tahun 1970-an. Awal kemunculan berawal dari kemunculan ARPANET ( Advanced Research Proyect Agency Network ) yang merupakan jaringan komputer yang dibuat oleh ARPA ( Advanced Research Proyet Agency ) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969. Hingga saat internet mengalami perkembangan yang sangat signifikan baik dari segi jumlah host computer ( komputer Induk ) maupun jumlah penggunanya, selama beberapa tahun terakhir ini.

Teknologi internet telah memungkinkan orang untuk memindahkan ulang acara televisi yang mereka tonton di rumah ke laptop mereka atau telepon seluler mereka di mana pun berada. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah dan relatif murah. Jaringan internet tanpa kabel ( WI-FI ) telah semakin meluas dan meningkatkan penggunaan video bergerak secara langsung serta menonton film dan televisi melalui internet. Fasilitas ini telah memperkaya beberapa fasilitas yang sebelumnya sudah ada, seperti penerimaan panggilan telepon, surat elektronik (e-mail), halaman web, mengunduh music, data, teks tertulis, Video game interaktif dan foto tidak bergerak. Dengan demikian, ketika Anda mengunduh Video, tidak jelas lagi batasan apakah Anda sesungguhnya sedang menggunakan telepon, internet, menonton televisi atau menonton film.

Saat ini kita berada di tengah sebuah revolusi teknologi komunikasi yang diyakini banyak ilmuwan akan mentransformasi tatanan social dan budaya di seluruh dunia. Internet telah mampu mengubah pola-pola komunikasi dengan beberapa cara fundamental. Severin dan Tankard ( 2005 ) mengatakan media massa tradisional pada dasarnya menawarkan model komunikasi “satu untuk banyak”. Sedangkan internet memberikan model-model tambahan “banyak untuk satu” ( e-mail kesatu alamat sentral, banyaknya penguna yang beriteraksi dengan satu website ) dan “banyak untuk banyak” ( e-mail, milis, kelompok-kelompok baru ). Internet menawarkan potensi komunikasi yang lebih terdesentralisasi  dan lebih demokratis dibandingkan yang ditawarkan oleh media massa sebelumnya.

Senada dengan Saverin dan Tankard, Manuels Casttels dalam bukunya yang terbaru Communications Power ( 2010 ), menyebutkan bahwa media massa seperti radio, televisi, surat kabar, dan film di era konvergensi ini sudah dikatagorikan sebagai media massa tradisional. Ia mengatakan cirri dari komunikasi massa tradisional adalah searah. Pesan dikirimkan pada beberapa orang, seperti buku, surat kabar, film, radio dan televisi. Pada umumnya khalayak dapat berinteraksi dengan media massa tersebut. Khalayak dapat memberikan komentar terhadap program acara misalnya diskusi di radio maupun televisi baik melalui telepon, surat kepada redaksi,maupun melalui surat ekeltronik.

Secara historis, penggunaan internet denan komunikasi massa secara bersamaan disebut “mass self communication”. Sebagai bentuk komunikasi massa (mass communication) kerena ia secara potensial mampu menjangkau khalayak secara global dengan cara menyebarkan ( posting ) video pada you tube, membuat blog pribadi yang ditautkan dengan RSS untuk mengakses sejumlah website yang online, menulis pesan secara missal disebut jga e-mail, dsb. Tiga bentuk komunikasi ( interpersonal, komunikasi massa, mass self communication ) disebut secara bersamaan berinteraksi dan saling melengkapi antara satu dengan yang lain dari pada mengganti satu untuk yang lain.

Konvergensi media merupakan penggabungan dari media-media yang ada untuk digunakan dan memiliki tujuan yang sama,secara garis besar konveregensi media ini mengarah pada perkembangan teknologi informasi komunikasi karena akan menghasilkan inovasi-inovasi baru yang lebih berkembang dari media yang telah ada sebelumnya.Perkembangan teknologi yang berkonverhgensi tidak hanya mempengaruhi bidang teknologi saja namun telah mengubah  pola dasar kehidupan manusia yang berdampak pada kehidupan ekonomi,sosial dan budaya.

Hal terpenting dari konvergensi adalah digitalisasi, karena seluruh bentuk informasi mengalami perubahan ke bentuk digital. Dengan adanya perubahan ini, mengakibatkan penciptaan produk yang mengaplikasikan fungsi audio visual dan juga komputerisasi. Sebagai contoh telepon genggam yang dapat berfungsi sebagai televisi, mendengarkan musik, memotret dan mengakses internet. Beberapa tahun yang lalu, hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh beberapa peralatan yang berbeda. Tapi, sekarang semua aktivitas tersebut dapat di lakukan hanya dalam satu media yakni telepon genggam. Bahkan kita dapat menggunakan layanan 3G untuk berkomunikasi sambil bertatap muka dengan lawan bicara kita.Hal ini mencerminkan suatu konveregensi yang terjadi pada sebuah media dimana media informasi saling digabungkan untuk tujuan yang sama serta memudahkan pengerjaan yang sebelumnya dianggap menyita waktu,semua serba instant seiring perkembangan yang terjadi hal ini  memberikan efek yang dalam memudahkan kita untuk mengakses informasi tanpa terhalang ruang dan waktu.

Media yang berkonveregensi menghasilkan sebuah teknologi baru yang semakin berkembang tetapi media yang lama tidak akan terlupakan begitu saja,walaupun kedudukannya tergantikan namun fungsinya dalam dunia informasi tidak  akan hilang,seperti media percetakan koran-koran yang menyuguhkan banyak informasi akan selalu ada bahkan ketika produksinya tidak sebanyak dulu,ketika media informasi berbentuk tradisional dalam artian belum ada sebuah konvergensi yang terjadi.perkembangan yang terjadi tidak akan menghilangkan suatu media yang telah ada sebelumnya.

 

Jurnalisme Warga Melawan Korupsi

Desember 31, 2011

Oleh Indra Nugraha, Ketua Umum Komunitas Anak Tangga

Beberapa waktu yang lalu, media massa di Indonesia gempar oleh kasus Bibit-Chandra. Yang menarik bukan hanya adanya indikasi rekayasa dalam kasus tersebut, tetapi sebuah fenomena gerakan besar telah terjadi untuk menyelesaikan kasus tersebut di luar pengadilan. Fenomena tersebut bermula dari situs jejaring sosial Facebook. Seorang dosen bernama Usman Hamid membuat gerakan satu juta facebookers menolah Bibit-Chandra dipenjara, melalui grup facebook.

Gerakan tersebut terbukti ampuh menekan pemerintah untuk segera mengungkap kasus rekayasa atas kedua pimpinan KPK tersebut. Hingga kemudian kasus tersebut dinyatakan deponering.meskipun hingga saat ini, dugaan rekayasa atas kasus tersebut masih belum jelas terungkap.

Gerakan satu juta facebookers  tersebut, menjadi sebuah bukti nyata bahwa perlawanan melalui situs jejaring social sangat ampuh. Melalui situs jejaring social, pembentukan opini public akan dengan mudah terjadi. Hal ini dikarenakan, hampir semua orang menjadi pengguna situs jejaring social. Hampir semua orang mengakses banyak informasi melalui situs jejaring social. Imbasnya, arus informasi semakin gencar terjadi.

Karena itu, untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa korupsi sangat merugikan, dan harus dilawan, penggunaan situs jejaring social sangat efektif. Seperti dengan sering menulis hal-hal mengenai anti korupsi di akun pribadi kita, orang-orang yang sudah menjadi teman kita akan membaca apa yang kita tulis, dan bukan tidak mungkin akan timbul kesadaran dalam diri untuk melawan korupsi. Bahkan bisa saja terjadi gerakan moral untuk sama-sama melawan korupsi. Seperti apa yang terjadi pada kasus Bibit-Chandra.

Kita bisa memanfaatkan situs jejaring social untuk menyebarkan informasi seputar dunia anti korupsi. Siapa pun, tanpa terkecuali bisa berperan aktif dalam memberantas korupsi. Kita bisa membantu melaporkan  kasus-kasus korupsi yang terjadi di sekitar kita melalui situs jejaring social. Tentu saja, dengan menulis laporan-laporan kita mengenai kasus korupsi di sekitar kita.

Kalau dulu, tidak semua orang bisa menjadi wartawan, dengan perkembangan tekhnologi yang mutakhir sekarang semua orang bisa menjadi wartawan. Dengan menulis hal-hal seputar kejadian yang ada di sekitar kita di blog pribadi, web, atau bahkan hanya dengan meng-update status kita di facebook. Dalam hitungan detik saja, semua orang bisa mengetahui informasi yang kita sampaikan.

Tentu dengan peran aktif dari semua masyarakat untuk bersama-sama melawan korupsi dengan menyebarkan informasi tentang korupsi melalui situs jejaring social, akan menciptakan perubahan. Korupsi bisa diatasi dengan cara pengontrolan yang ketat dari masyarakat. Salah satu cara yang paling efektif dari pengontrolan masyarakat itu yakni dengan citizen journalism.

Melalui jejaring social, juga akan terbentuk kemitraan antar masyarakat untuk menggalang kekuatan dalam hal melawan korupsi. Sehingga dengan cara itu, akan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk terlibat secara aktif dan interaktif dalam mencegah terjadinya kasus korupsi.

Melalui penerapan jurnalisme warga di situs jejaring social, saya yakin bisa menjadi alat untuk menciptakan perubahan dalam hal perlawanan korupsi. Sehingga bukan tidak mungkin, peringkat Indonesia dalam hal korupsi bisa menurun. Demi menciptakan hal tersebut, tentu saja membutuhkan partisipasi dari banyak pihak.

Perjuangan melawan korupsi tidak akan pernah usai. Segala cara harus kita lakukan demi mewujudkan Negara Indonesia yang adil, makmur, sejahtera tanpa ada korupsi. Perjuangan itu berawal dari diri sendiri, dari lingkungan terdekat, dari mulai sekarang. Selamat berlawan!

 

Untuk Apa dan Siapa Kita Menulis

Desember 30, 2011

YB Mangunwijaya menyebutkan, ada lima jenis penulis. pertama,adalah orang yang menulis karena “iseng.” kalangan ini mengarang karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. contohnya adalah remaja yang yang menulis dimana-mana, tanpa tahu maunya sendiri. hanya bermodalkan pena dan secarik kertas bahkan spidol dan cat untuk mencoret-coret dinding tetangga. Mereka merasa berbakat mengarang kerjanya menulis setiap hari,di mana saja,tentang apa saja. tetapi tulisan itu bukan untuk siapa pun dan hanya nikmat bila di baca sendiri.

kedua, adalah “pujangga kraton.” jenis ini mengarang karena di pesan. ada pejabat yang memperkerjakan penulis pidato,pembuat biografi, dan penyalin surat. kalau tidak dipelihara raja,bupati,gubernur, atau mentri;pengarang demikian kita kenal sebagai sekertaris. pengarang jenis ini bisa membuat banyak sekali buku.bisa juga populer,numpang nama tuannya. bisa juga sama sekali tidak dikenal. ia setuju dengan ungkapan: kambing punya susu,sapi punya nama.

ketiga,adalah “sastrawan proyek.” mereka ini menulis buku,artikel, atau naskah apa saja karena ada proyek,pesanan,perlombaan. sebetulnya tidak suka menulis. tetapi karena tertarik oleh hadaiah besar,atau sudah terlanjur menyatakan sanggup,maka terpaksa mengarang. keempat: penulis profesional. ini banyak kita kenal sebagai penyiar radio dan  wartawan. mereka ini mau tidak mau,suka tidak suka harus menulis. kadang dalam bentuk buku. tapi yang paling sering dalam bentuk laporan. pekerjaan memang menulis,menulis, dan menulis. karena itu mereka hidup dan mati untuk mengarang. Modalnya: keterampilan. kalau absen mengarang bisa di pecat. minimal gajinya di potong, kinerjanya di anggap buruk. kelima, adalah “Pengarang Nurani.” Artinya, orang yang menulis karena panggilan hatinya. jenis ini tidak banyak. tetapi penulis yang begini biasanya benar-benar seurius. ia tidak mengarang karena diperintah. Bukan karena honorarium atau iming-iming hadiah. bukan juga karena terpaksa, bukan juga ingin mencari popularitas, membuat heboh dan mendapat ketenaran. ia menulis karena merasa ada sesuatu yang perlu di lakukan. mungkin untuk kepentingan anak-cucunya. mungkin juga untuk membela alam lingkungannya,kebudayaannya,agamanya, bahkan sejarah dan kebudayaan bangsanya.

Jadi, untuk apa dan siapakah kita menulis? Apakah untuk di nikmati sendiri seperti jenis pertama atau seperti  jenis kedua yang menulis apa saja sesuai kehendak atasan. Atau mungkin kita menulis karena iming-iming sesuatu seperti, honor,nilai,pujian atau kepopuleran. Itu semua kembali kepada diri kita masing-masing. Namun apabila kita menghayati sebuah kalimat milik sang maestro Pramoedya Ananta toer: “tak ada tulisan yang bagus di dunia ini, yang ada tulisan yang menggugah rasa kemanusiaan.”  Sepertinya kita akan tergerak menulis karena panggilan hatinya dan menjelma menjadi pengarang jenis kelima. Menulis untuk perubahan,menulis untuk kemanusiaan dan menulis untuk jiwa yang merdeka!

Sumber: Eka Budianta,senyum untuk calon penulis,2005,ALVABET,Jakarta.

tulisan serupa: http://bundarayya.multiply.com/journal/item/70?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem